Bercerita tentang Makassar, banyak hal yang bisa didengar. Tentang leluhur
yang terkenal tegar, pelaut-pelaut ulung yang pandai berlayar, menaklukkan
samudra sampai ke Madagaskar. Atau tentang Sultan Hasanuddin Sang pendekar,
raja pemberani yang tak kenal gentar, hingga“Ayam Jantan Dari Timur” oleh
penjajah ia diberi gelar. Atau juga tentang Syekh Yusuf Sang penyabar, meski
dibuang oleh penjajah yang kurang ajar, sampai ke Afrika dia terdampar, di
sanalah ilmu dan islam ia sebar. Bercerita tentang Makassar banyak hal yang
bisa didengar, karena memang sering jadi berita besar, akibat putra daerah yang
bikin gempar. hingga orang Makassar sendiri kadang berkelakar, apakah mereka
juga orang-orang besar? ataukah beritanya yang tidak benar? Yang ditanya cuma
berujar : “sabar…..semuanya masih samar”. Atau sengaja dibikin samar?
Bercerita tentang Makassar, memang banyak hal yang bisa didengar,
tapi kalau bercerita tentang mahasiswa Makassar, lebih banyak lagi yang bisa
didengar. Orang bilang mereka sangar-sangar meski badan mereka tidaklah kekar,
apalagi di depan mahasiswa baru yang ditatar. Lagaknya bak pendekar besar,
pembela yang benar. Tak pernah alpa mahasiswa baru diajar untuk memihak rakyat
yang terlantar. Tapi tak terhitung pula kata-kata kotor dan kasar dari mulut
mereka terlontar. Bahkan mereka tak segan-segan menampar, membantai maba dengan
pukulan halilintar, ataupun tendangan putar dengan sepatu keras Caterpillar.
Akibatnya wajah maba semua memar, bahkan ada yang matanya hampir keluar dan tak
bisa lagi melihat dengan benar. Tak cuma itu yang bisa didengar tentang
mahasiswa yang sok pendekar. Semua fakultas arogansinya sama benar, fanatisme
sempit pun disebar : hanya fakultas atau jurusan kita yang benar dan terbesar.
Yang lain? dengar saja teriakan mereka yang menggelegar : “yang bukan fakultas
ini, keluar!!!” Akibatnya , perang antar fakultas atau jurusan pun tak
terhindar. mereka saling mengejar berputar-putar, dengan batu dan pecahan
genteng saling melempar, pedang, badik dan panah pun menyambar-nyambar,
diselingi bunyi papporo’ yang menggelegar. Hasilnya, tak sedikit mahasiswa yang
kena lempar, kena sabetan pedang atau panah hingga terkapar, gedung-gedung dan
kendaraan pun ikut terbakar jilatan api yang berkobar, tak ketinggalan ada juga
pembantu rektor yang sial terkena lemparan nyasar, kaciaaaaaaaaaaaaaaaan benar!
Mahasiswa
menjelma menjadi mahluk barbar yang tak lagi bisa menggunakan nalar hingga
sering bikin makar. Tapi lucunya, mereka juga akan marah besar kalau dibilangi
: “kurang ajar!” Benarlah kata orang tentang orang Makassar : pa’bambangang na
tolo atau emosinya mudah terbakar alias tak sabar . Setelah puas mereka pun
bubar, masing-masing pulang ke kamar, bertukar kabar dengan tetangga kamar yang
tadinya saling melempar sambil membuat janji menjenguk temannya yang terkapar,
di rumah sakit besar yang mungkin mereka tak mampu bayar. Bercerita tentang
mahasiswa Makasssar bukan itu saja yang bisa didengar. Meskipun mereka sangar
dan kasar tapi lembut bahkan tak berdaya jika di depan pacar. Gaya hidup
selebritis dijadikan standar, dengan mobil model yang terakhir keluar, mereka
ke kampus atau pusat kota berputar-putar atau mengantar pacar pergi ke pasar,
sekedar beli kangkung atau acar. Paling senang bersama gengnya pergi ke bazar,
ke pantai atau festival musik yang hingar bingar, tak pernah absen ke bioskop
nonton film terbaru yang diputar, dan untuk sekedar menghilangkan lapar, mereka
kadang ke sari laut makan ayam panggang atau ikan bakar. Banyak juga yang
kerjanya cuma belajar dan belajar, nilai tinggi dikejar-kejar, hingga tak
peduli lagi dengan dunia luar. Pikirnya bagaimana kuliah cepat kelar, jadi
sarjana ke sana sini melamar atau menunggu dilamar oleh sang pacar yang kian
tak sabar.
Bercerita tentang mahasiswa Makassar sebenarnya tak jauh beda
dengan yang diluar. Tiap hari datang ke kampus untuk belajar di ruang kuliah
full AC atau kipas angin yang bikin segar, atau justru terkantuk-kantuk menahan
sabar, menanti langkah kaki dosen yang tak kunjung terdengar, karena sudah jadi
kebiasaan terlambat mengajar. Dosennya bilang itu sih wajar tapi kalau
mahasiswa mengkritik agak kasar, atau kebobrokannya disebar-sebar, akan
dibilangi “kurang ajar” dan nilai error pun pasti akan ramai keluar. Karena
waktu yang kian melar dosen masuk kelas cuma untuk berujar sekedar basa-basi
yang hambar: “Mahasiswa sekalian, selamat siang menjelang ashar” atau “apa
kabar?” Habis “kuliah” mahasiswa pun bubar tanpa banyak berkomentar. Mereka
berpencar menyusuri gedung kampus yang makin sangar karena tak pernah lepas
dari rumput liar dan semak belukar, hingga sering orang bilang banyak hantu
kesasar. Tak pernah lupa mereka mencakar dinding kampus yang baru dipugar, atau
merusak taman beserta pagar. Lalu tanpa perasaan bersalah mereka berkelakar,
persetan aturan mana yang kita langgar, semua ini kan kita yang bayar.
Bercerita tentang mahasiswa
makassar memang tak jauh beda dengan yang diluar, termasuk untuk urusan
perempuan yang selalu bikin ramai kayak pasar. Dari yang sering pamer lubang
pocci alias pusar, yang tak pernah absen mengintip keluar, tak peduli sengatan
matahari yang membakar, sampai mahasiswi yang berjilbab dan berjubah lebar
bahkan sampai yang bercadar. Mereka bagaikan bunga melati atau mawar, dengan
pesona dan aroma yang menebar, menggoda kumbang yang siap mengejar melati atau
mawar yang sedang mekar, hingga tak jarang kabar tersiar, banyak melati atau
mawar tak lagi segar, tinggal luka, sesal dan tatapan nanar, menatap kumbang
yang berubah liar. Tak perlu kau gusar karena ini bukan lagi rahasia besar,
lebih baik kau sadar dan kembali ke jalan yang benar, hibur temannya dengan
suara datar yang nyaris tak terdengar.
Bercerita tentang mahasiswa Makassar memang tak jauh beda dengan
yang diluar. Karena masih banyak juga yang masih sadar, kuliah dengan benar dan
mengasah nalar lewat diskusi dan seminar, serta menegakkan amar ma’ruf nahyi
munkar lewat ceramah dan tabligh akbar, meski kadang ada juga yang sadar atau
tak sadar, terjebak fanatisme kelompok yang katanya punya dasar, hingga
dianggapnya kelompoknyalah yang paling benar, seakan tiap malam mendapat
lailatul qadar, jadi ahlul jannah seakan pasti benar, sedang yang lain hanya
jadi ahlunnaar. Bercerita tentang mahasiswa Makassar memang tak jauh beda
dengan yang diluar. Ketika negara menjadi gempar dan rakyat kian terlantar
ditengah arus korupsi, kolusi, dan nepotisme yang makin lancar oleh penguasa
yang kurang ajar, bahkan ketika negara dijual di bursa cakar, suara mahasiswa
itu pun tak lagi terdengar yang dulunya menggelegar dan membuat gemetar
mahasiswa baru yang ditatar. Tak nampak lagi semangat yang berkobar. Kritikan
tajam dan demonstrasi pun tak lagi gencar, hingga amanah reformasi tak lagi
terhantar.
Bercerita
tentang mahasiswa Makassar memang tak jauh beda dengan yang diluar. Tapi kalau
harus berkomentar, temanku bilang: maunya saja dibilang pintar tapi lebih
lembek dari para pelajar, bahkan mungkin nyalinya tak lebih besar dari murid
sekolah dasar. Jadi kesimpulannya: mahasiswa Makassar, “GAYANAJI!” teriaknya
sambil tertawa lebar. Aku sendiri sih tak mau sesumbar, hanya bisa tersenyum hambar
sambil mengelus jenggot yang sedikit lebih selembar. Karena kalau mau jujur
berujar, aku dan temanku itu pun orang Makassar, juga sama-sama sebagai
mahasiswa Makassar. Yahhhh……Dasar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar